Posted by: aJOemOni on: Tuesday, 28 August 2007
Susahnya Jadi Selebritis
Beberapa hari yang lalu ayah saya bertemu dengan rekan kerja pengusaha sukses yang juga merupakan putra dari salah satu konglomerat di Indonesia, B****e (Saya lupa tidak menanyakan nama depannya). Tanpa diduga saya menjadi topik pembicaraan mereka. Menjadi topik perbincangan, wow, yang membincangkan adalah anaknya konglomerat, WOW!
Hi hi hi, saya juga bingung kenapa saya bisa begitu terkenalnya. Hehehe, jadi enyaak.. Ternyata kebiasaan saya untuk selalu mengikuti kemana ayah bekerja, mulai dari ruang kantor, ruang rapat, ruang diskusi, ruang seminar, dan ruang-ruang lainnya selama KP tidak ada ruginya. Saya berubah menjadi sosok ’selebritis’ yang terkenal diantara teman-teman ayah, mungkin ini merupakan hasil sampingan selama saya KP. Tidak hanya status ’selebritis’ saja yang saya dapat, tetapi dengan semakin bertambahnya ‘kenalan orang penting’ maka semakin berkembang jaringan yang saya bentuk untuk keperluan masa depan saya. Wah, enyak-enyak.. Susahnya? Susah jika tiba-tiba banyak yang meminta tanda tangan dan foto bersama. Hehehe..
Seingat saya, sekitar satu bulan yang lalu, saya pernah berkenalan dengan anak konglomerat tersebut di sebuah restoran hotel. Tetapi saya tidak ingat pasti mana ’si Anak Konglomerat’ karena pada waktu itu saya berjabat tangan dengan banyak orang, yang sekarang nama maupun mukanya sudah lupa. Hehehe. Pada waktu itu yang ada dipikiran saya hanyalah “mencicipi semua makanan gratisan disini!! Horee..”
Balik lagi ke masalah perbincangan mereka. Ternyata isi perbincangan tersebut adalah tawaran kerja untuk saya sebagai staf IT di salah satu perusahaan besar yang dipimpinnya (Maaf, tidak enak menyebutkan namanya) tanpa proses seleksi. WOW! Alhamdulillah, saya senang sekali mendapat tawaran tersebut. Tapi, seperti telah diketahui bersama –kecuali oleh anak konglomerat tsb-, saya belum lulus.
Lalu saya jadi banyak berpikir, “Apakah adil bagi teman-teman saya nantinya jika saya lolos tanpa seleksi?” atau “Apakah jika tanpa fasilitas ini saya mampu lolos?” atau “Apakah ini jalur halal dan legal?” atau “Kenapa belum melihat transkrip nilai sudah berani memutuskan untuk merekrut seseorang?”. Ahh, tidak perlu dipikirkan macam-macam lagi, rezeki kan Allah yang mengatur. Jadi harus memanfaatkan kesempatan emas ini.. Hehehe.. Wong bukan saya yang meminta-minta kok. Hehehe..
Sekarang saya hanya bisa berdoa semoga saya cepat lulus lalu dimudahkan dalam mendapatkan pekerjaan yang terbaik. Amien.
Wednesday, 29 August 2007 at 6:32 pm
wew….
dasar anaknya direktur…